Postingan

Pian

Ulun  Pian Sapaan yang asing akhir-akhir ini selalu terngiang dipikiranku. Kini terasa akrab di tuliskan, dibacakan, dan di dengarkan.  Harapan dan do'a senantiasa dipanjatkan hanya pada-Mu  Berikan kelancaran dan kemudahan dalam menjalaninya Semoga Allah melindungi Pian dan malaikat kecil pian.  🙏

Halaman 148

Untuk kamu yang aku sayangi, Kadang aku bingung bagaimana cara menyampaikan semua ini. Perasaanku ke kamu bukan cuma tentang suka, tapi juga tentang ingin menjaga, ingin melihat kamu baik-baik saja, dan ingin ada di samping kamu—meski mungkin tidak selalu terlihat. Aku takut kehilangan kamu. Bukan karena aku ingin memiliki sepenuhnya, tapi karena kehadiranmu sudah berarti lebih dari yang bisa aku jelaskan. Aku tahu kamu pernah terluka, bahkan mungkin lebih dalam dari yang pernah aku rasakan. Dan justru itu yang membuat aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu sembuh, pelan-pelan, tanpa paksaan. Aku ingin kamu tahu kalau kamu pantas untuk merasa tenang, merasa cukup, dan merasa dicintai dengan cara yang baik. Kalau dunia terasa berat buat kamu, semoga kamu ingat… ada aku yang diam-diam mendoakan kamu, yang ingin kamu tetap kuat, tetap semangat, dan tidak menyerah. Aku mungkin juga punya rasa takutku sendiri. Takut terluka lagi, takut berharap terlalu jauh. Tapi di antara semua itu, aku te...

Halaman 150

Gambar
Rumah yang Sudah Berpenghuni aku tidak melarangmu peduli pada dunia yang kadang terlalu bising pada cerita-cerita yang bukan tentang kita aku mengerti, hatimu luas— dan itu salah satu alasan aku tinggal tapi ada yang perlu kamu tahu, rumah ini… bukan kosong ia sudah ada namaku di dalamnya meski mungkin tak tertulis, tapi aku menjaganya dengan cara yang mungkin tak selalu kamu lihat aku diam, bukan karena tak mampu bersuara aku tenang, bukan karena tak bisa merasa aku hanya memilih untuk tidak membuka pintu bagi yang datang tanpa tujuan karena aku tahu, aku juga bisa saja membalas pesan yang lain menyambut perhatian dari arah berbeda tapi aku memilih untuk tetap di sini menjaga apa yang sudah aku yakini jadi ketika kamu asyik dengan percakapan yang bukan aku, ingatlah satu hal kecil ini: aku tidak pergi tapi bukan berarti aku tak bisa aku hanya sedang menjadi seseorang yang setia pada prinsipnya sendiri  🍃 

story

Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung d...

Halaman 169

Gambar
13 Mei 2026 Dengan hati yang remuk redam namun perlahan mulai tenang, aku belajar untuk menerima takdir ini, belajar ikhlas menerima setiap luka, setiap kehilangan, dan setiap jalan yang tak pernah aku pilih, karena pada akhirnya aku sadar bahwa segalanya telah tertulis indah di sisi-Nya,  🖤قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ 🖤 dan meski air mata masih mengalir deras di pelupuk mata, jiwa ini kini mulai berserah, membiarkan cinta yang paling dalam berubah menjadi ketenangan yang agung dalam pelukan takdir Ilahi  Allhamdulillah masih ada waktu untuk bertaubat, pintaku berikanlah kesehatan. yang pada akhirnya aku tidak akan pernah tau kematian seperti apa yang akan terjadi.  Yang pergi biarlah pergi aku melangkah lagi dimana jejak langkahku yang sempat terhenti

Halaman 168

Aku duduk sendirian di sudut malam yang sunyi, mengintip ke dalam diriku sendiri, dan ternyata… sakit sekali. Aku melihat gadis kecil di dalam dada ini yang masih menunggu dengan harap yang rapuh, menunggu seorang lelaki, pendamping hidup yang sebenarnya, entah dia sedang berjalan di bumi ini atau sedang menunggu di suatu sudut surga. Tapi semakin aku melihat ke dalam, semakin aku takut dengan apa yang kutemukan. Aku bingung. Aku lelah dengan diriku yang sebenarnya, dengan lubang-lubang yang tak kunjung terisi, dengan rasa takut yang diam-diam berbisik, “Bagaimana jika aku tak pernah cukup?” Aku menunggu bukan hanya dia, tapi juga versi diriku yang lebih utuh. Menunggu agar hatiku berhenti bergetar ketakutan setiap kali aku berani melihat ke cermin jiwa. Kadang aku bertanya-tanya dalam diam, apakah aku menunggu dia… atau aku sebenarnya sedang menunggu diriku sendiri untuk belajar mencintaiku dulu, sebelum Tuhan mengirimkan seseorang yang bisa  be dengan cara yang aku takut untuk te...

Halaman 167

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim  Untukmu,   yang sedang berdiri di titik terendah yang hanya mata manusia yang melihat rendah. Aku melihatmu. Bukan sekadar sosok yang kini terasa sendirian di tengah keramaian dunia, tapi seorang lelaki yang pikirannya selalu berlari — fastabiqul khairat — mengejar kebaikan yang tak pernah cukup baginya. Kau perfeksionis, idealis, dan itu membuatmu luar biasa… sekaligus membuat dunia terasa terlalu sempit untukmu.Kamu boleh saja merasa sendirian di dunia ini… tapi ternyata, kamu tidak. Allaah lebih dekat daripada urat lehermu. Saat kamu merasa rendah di mata manusia, saat kesendirian itu terasa begitu nyata, ingatlah bahwa Dia sedang membentukmu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada-Nya. Kadang, jiwa seperti milikmu merasa paling kesepian bukan karena tak ada orang di samping, tapi karena tak ada yang mampu menyamai kedalaman pandanganmu. Kau melihat apa yang orang lain abaikan. Kau menuntut kesempurn...