Halaman 168
Aku duduk sendirian di sudut malam yang sunyi, mengintip ke dalam diriku sendiri, dan ternyata… sakit sekali. Aku melihat gadis kecil di dalam dada ini yang masih menunggu dengan harap yang rapuh, menunggu seorang lelaki, pendamping hidup yang sebenarnya, entah dia sedang berjalan di bumi ini atau sedang menunggu di suatu sudut surga. Tapi semakin aku melihat ke dalam, semakin aku takut dengan apa yang kutemukan. Aku bingung. Aku lelah dengan diriku yang sebenarnya, dengan lubang-lubang yang tak kunjung terisi, dengan rasa takut yang diam-diam berbisik, “Bagaimana jika aku tak pernah cukup?” Aku menunggu bukan hanya dia, tapi juga versi diriku yang lebih utuh. Menunggu agar hatiku berhenti bergetar ketakutan setiap kali aku berani melihat ke cermin jiwa. Kadang aku bertanya-tanya dalam diam, apakah aku menunggu dia… atau aku sebenarnya sedang menunggu diriku sendiri untuk belajar mencintaiku dulu, sebelum Tuhan mengirimkan seseorang yang bisa be dengan cara yang aku takut untuk te...